Tulisan ini merupakan tulisan yang berasal dari http://salafyitb.wordpress.com/2007/05/02/perihal-menyingkat-kalimat-salam-3/#more-75

Pertama,
Ada orang yang mengatakan bahwa salafy itu lebih suka mengikuti kesimpulan/pendapat syaikhnya daripada menelurusi dan mengurai dalil yang melatar belakangi kesimpulan tersebut.

Bahasa ‘gaul’nya barangkali taqlid yah.. :p

Kita tentunya harus membuktikan bahwa ucapan orang ini salah dan keliru berat, paling tidak kita harus menunjukkan bahwa ucapan beliau ini tidak berlaku bagi warga milis SalafyITB yang belakangan lagi hangat juga dengan topic ‘salafy sejati’ terrutama di blog SalafyITB :p

Nah satu diantara bentuk pembuktiannya adalah kita bisa menunjukkan dalil akan apa yang kita amalkan, termasuk diantaranya masalah sholawat. Kita tunda sejenak masalah singkat menyingkat redaksi sholawat, kita tunjukkan saja dahulu sholawat yang baku itu seperti apa… Sebelum mengupas singkatan SAW kita tunjukkan saja dulu mana dalil bahwa sholawat itu adalah dengan membaca “shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Dari mana ini dasarnya? Bukankah shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti bacaan kita dalam tasyahhud? Apakah kita mengucapkan itu karena para ulama juga mengucapkannya? Apakah kita pernah bertanya dan mencari tahu kenapa begitu bukan begini dan kenapa begini bukan begitu? Bukankah redaksi “shallallahu ‘alaihi wa sallam” sendiri merupakan bentuk ikhtishar/penyingkatan dari sholawat yang lengkap yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung dari lisannya? Kalau kita menjawab karena para ulama melakukannya, maka sudah barang tentu ucapan saudara kita di atas adalah benar adanya, hmmm… ndak mau kan?

Salah satu dalil atau argument mengapa kita bershalawat dengan ucapan shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istinbath dari ayat Allah di surah Al-Ahzab 56:
صلُّوا عليهِ وسلِّموا تسْليماً

Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa sholawat yang dibaca adalah seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan dalam sholat, namun boleh diringkas dengan shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai istinbath dari ayat tersebut.

Ada yang bisa bantu menunjukkan dalil yang lain?

Kedua,
Disinggung dalam diskusi bahwa muncul masalah berikutnya yaitu pemilihan redaksi ataupun huruf dalam penulisan, apakah ada standard baku untuk itu? Ditulis lengkap bagaimana dan dengan bahasa apa? Apakah jika kita menulis makalah ilmiyyah berbahasa Indondesia maka sholawat juga ditulis dalam huruf latin? Bolehkah menulis sholawat dengan symbol r (font AGA Arabesque) seperti yang umum digunakan saat ini di buku ataupun majalah? Bukankah bagi mereka yang tidak bisa bahasa arab atau tidak bisa melihat jelas karena terlalu kecil dan rapat tidak tahu itu symbol atau tulisan apa? Bukankah justifikasi yang diberikan adalah pembaca mengerti bahwa itu adalah tulisan sholawat kepada Nabi. Jika demikian apa bedanya dengan SAW, bukankah kata SAW juga sudah umum dan dimengerti oleh muslimin Indonesia, terlepas apakah mereka mengucapkan sholawat atau tidak seperti halnya symbol tadi?

Saya pribadi lebih memandang bagaimana kita berusaha mengedukasi umat untuk mengerti dan mengamalkan hadits:

البخيل من ذكرت عنده فلم يصل علي (رواه الترمذي)

Sehingga ketika mereka sudah mengerti, tidak ada lagi permasalahan menyingkat atau menulis lengkap karena keduanya akan sama saja, bagi penulis dia akan talaffuzh shalawat ketika menuliskan nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bagi pembaca pun sama akan talaffuzh sholawat ketika membaca nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kendati di sana tidak tertulis sama sekali kalimat sholawatnya ataupun singkatannya.

Masalahnya, seberapa sering kita menyampaikan hal ini kepada audience atau pembaca, baik mengajarkan kepada yang belum tahu ataupun mengingatkan yang sudah tahu namun kerap luput bersholwat? Di acara muhadharah mungkin muhadhir terkadang menyelipkan agar membaca sholawat ketika nama Nabi disebut, tapi di buku-buku dan majalah, apa ada ditulis di muqaddimah apabila menjumpai nama Nabi tertulis pembaca agar mengucapkan sholawat? Pak Abu Faris, pernah mengingatkan pembaca dalam muqaddimah buku-buku antum? Pak Abul Jauzaa, Pak Abu Jibrin, Pak Abu Sholih, Pak Ahmad?

Sejatinya saya belum sekalipun melakukannya, menyelipkan entah di header/footer, muqaddimah ataupun jilid, mudah-mudah bisa menjadi pelajaran dan besok-besok bisa saya lakukan.

Jika semuanya berdasarkan asumsi bahwa pembaca sudah mengerti, tentu tidak perlu lagi kita bicara singkat atau tulis lengkap.
Jika semuanya berdasarkan asumsi bahwa pembaca belum mengerti sehingga perlu ditulis lengkap agar bisa terbaca, maka inipun bagus dan mulis tapi bisa kita survey yang membaca kalimatnya adalah mereka yang mengerti tadi:) adapun yang belum mengerti, biasanya ya liwat saja… kalau kata Pak Abu Faris, silakan disurvey:)

Jangankan sholawat, ayat saja yang sudah jelas ta’abbud luar biasa dalam membacanya (pahalanya huruf demi huruf) atau hadits, ketika seseorang membaca makalah, buku atau majalah, tekadang dengan alasan tertentu dia shortcut langsung baca terjemahnya saja. Ini semua sejatinya sama dilatarbelakangi karena ketidaktahuan akan arti penting pembacaannya sehingga untuk itulah penulis atau penerbit memuatnya. Wallahu a’lam.

Jadi.. mari kita saling mengingatkan (internal; antara sesama yang sudah belajar dan mengerti) dan jangan lupa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang al-islam. Jangan haramkan pahala yang sempurna bagi orang lain dengan tidak membuat mereka lebih menghayati niat dalam amal yang dilakukan sehingga lebih berkualitas. Dan niat yang sepenuh hati serta amal yang berkualitas tentu akan diperoleh lantaran pengetahuan yang mencukupi. Saya kira kita sepakat bahwa pahala orang yang mengucapkan sholawat dengan sepenuh hati sebagai bentuk pengamalan ayat dan hadits tidaklah sama dengan pahala orang yang mengucapkan sholawat karena tertulis dalam halaman yang dia baca tanpa menyadari maksud atau nilai yang terkandung di dalamnya. Semoga Allah merahmati orang yang berkata: Al-ilmu qablal Qauli wal ‘amal.

Wallahu al-muwaffiq.

Ketiga,
Khusus berkenaan dengan salam dan sholawat dalam sms, tidak terkecuali email. Bukankah semuanya itu langsung atau tidak langsung, diakui ataupun tidak, adalah dalam bentuk sebagai surat/mail/risalah?

Bagaimana kalu kita konsisten bahwa dalam penulisan surat, contoh yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada kita adalah memulai dengan bismillah. Silakan lihat surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Heraklius: Bismillah min Muhammad bin Abdillah ila….dst.
Pertanyaanya, pernahkah kita mengirim email dan atau sms dengan kalimat pertama adalah basmalah sebelum salam? :p

Ada pembahasan menarik dalam hal ini, kenapa Al-Imam Al-Bukhari memulai kitab shahihnya hanya dengan basmalah saja tanpa khuthbatul hajah atau kalimat pembuka yang umum dipakai yang berisi pujian, syahadat dan sholawat?
Jawabnya adalah seperti penjelasan Ibn Hajar dalam Fathul Bari bahwa beliau melakukan itu karena memposisikan kitab Shahihnya itu sebagai surat kepada para ahli ilmu untuk belajar dan mengajar.

Point ketiga ini tentunya tidak ada hubungannya dengan pembahsan manapun, hanya terlintas dan ingin berbagi saja…
Silakan baca Fathul Barinya, banyak sekali faidah di sana…

Keempat,
Mirip dengan point pertama sekaligus menjawab atau menambah list pertanyaan dari rekan kita, mari kita tarik satu-satu dan kita persilahkan hadhirin di sini menjawabnya:p

1. Apa dalilnya kita biasa mengucapkan ‘alaihis salam kepada para Nabi dan malaikat?
2. Apa dalilnya kita mengucapkan radhiyallahu ‘anhu kepada shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
3. Apa dalilnya kita mengucapkan rahimahullah kepada para ulama yang sudah meninggal dunia?
4. Apa dalilnya kita mengucapkan hafizhahullah kepada ulama yang masih hidup?
5. Apa dalilnya bahwa ketika kita ditanya apakah anda muslim maka jawabnya; saya muslim, insya Allah.?
6.
7.
8. dst

Apakah kita melakukan semua itu karena para ulama melakukannya? Ataukah kita juga tahu alasan mereka melakukannya?

KITA BUKAN ulama, atau saat ini BELUM jadi ulama. Tapi KITA SEMUA tidak boleh jadi muqallid buta di segala aspek. Yang harus dan bisa kita lakukan saat ini adalah menjadi muttabi’ berkualitas. Yaitu yang menelusuri setiap rahasia yang melatarbelakangi kesimpulan para ulama dalam setiap permasalahan semampu kita. Mengembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih adalah resepnya. Dan untuk meraciknya, di sanalah kita membutuhkan para ulama.

Wallahul haadii ila sawa-is sabi

Abu Ishaq As-Sundawy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s